Keberadaan pekerja rumahan di Indonesia tidak banyak diketahui, karenanya persoalan seutuhnya juga tidak dipahami baik oleh masyarakat, pemerintah maupun perancang pembangunan. Pekerja rumahan adalah mereka yang bekerja dari rumah dengan menggunakan rumah sebagai tempat kerja, pekerjaan yang dilakukan adalah memproduksi komoditas komersial secara masal.[1]

Konvensi ILO No. 177 Tahun 1996 tentang Kerja Rumahan, menjelaskan pengertian dari Kerja Rumahan adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang, yang kemudian disebut sebagai Buruh Rumahan, (i) di rumahnya atau di tempat lain pilihannya, selain tempat kerja pemberi kerja; (ii) untuk mendapatkan upah; (iii) yang menghasilkan suatu produk atau jasa sebagaimana yang ditetapkan oleh pemberi kerja.  Dalam  UUK 13 2003 di jelaskan bahwa yang disebut buruh adalah mereka yang 1. Ada pekerjaan, 2. Menerima Upah dan 3. Ada perintah. Berdasarkan penjelasan  UU tersebut maka para pekerja rumahan adalah BURUH yang harus dilindungi hak-haknya sesuai UUK 13 tahun 2003.

Perempuan Pekerja Rumahan yang ada di daerah Istimewa Yogyakarta, terutama di kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta banyak yang bekerja dengan pengusaha/majikan usaha mikro/kecil dengan modal dan usaha masih bersifat terbatas dan mikro. Majikan juga banyak yang masih tetangganya atau temannya sendiri, akibatnya hubungan kerja yang di bangun bukan hubungan ketenagakerjaan. Sehingga pekerja rumahan belum mendapatkan hak hak nya sebagai pekerja. Pekerjaan yang dilakukan membuat/merajut sepatu, menjahit/membordir pakaian/jilbab/tas batik/tas perca, batik menjumput,  membuat wayang/kipas dari kulit/kain, emping melinjo, Membuat Kipas, melinting rokok, menggulung sosis, pasang kancing, kerajinan pembuatan peralatan rumah tangga sampai pada pernak-pernik hiasan rumah dan asesoris (perhiasan) dan banyak lagi lainnya.

Ada 1.297 orang PPR yang telah data oleh Yasanti dan Serikat Kreatif Bunda Pekerja Rumahan Desa Wonolelo. Terdiri dari  200 orang PPR dari kab Sleman, ada 902 orang PPR dari kab Bantul, dan ada 195 orang PPR dari kota Yogyakarta. dari 1297 PPR ada 321 orang Perempuan Pekerja Rumahan yang telah bergabung dalam organisasi serikat pekerja rumahan di 5 desa di 3 kecamatan di kab Bantul, di 5 kelurahan di 5 kecamatan di Kota yoyakarta, yaitu 77 orang PPR yang bergabung dalam SPPR Kreatif Bunda desa Wonolelo, 38 orang PPR yang bergabung dalam SPPR Bunda Mandiri desa Bawuran, 37 orang PPR yang bergabung dalam SPPR desa Segoyoroso, 34 orang PPR yang bergabung dalam SPPR Ngudi Makmur desa Wukirsari Kec Imogiri, 27 orang PPR yang bergabung dalam SPPR Kasih Bunda desa Bangunjiwo. Ada 35 orang PPR yang bergabung dalam SPPR Bunda Merdeka Kel Tegal Panggung, 19 orang PPR yang bergabung dalam SPPR Harapan Ibu Kel Notoprajan, 15 orang PPR yang bergabung dalam SPPR Bunda Mulia Kel Tahunan, 19 orang PPR yang bergabung dalam SPPR Sekar Melati Kel Cokrodiningratan, 20 orang PPR yang bergabung dalam SPPR Mutiara Bunda Kel Prenggan.

  • PROFIL 10 Desa/Kelurahan, di 8 Kecamatan di Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta
    • Kabupaten Bantul

Desa Wonolelo Pleret

Desa Wonolelo berada di kecamatan Pleret kabupaten Bantul DIY. di desa wonolelo ada 8 dusun, antara lain, dusun Bojong, Mojosari, Kedung Rejo, Depok, Cegokan, Ploso, Purworejo, dan Guyangan. Mayoritas perempuan yang sudah berumah tangga rata-rata tingkat pendidikan SD-SMP, memilih bekerja sebagai pekerja rumahan, terbukti saat ini ada 200 orang perempuan yang bekerja sebagai pekerja rumahan. Ada yang menjahit tas batik dari perca, menjahit tas belanja, membuat emping mlinjo, menjahit pakaian, dll. Di desa Wonolelo telah diresmikan serikat PPR Kreatif Bunda pada tanggal 30 Desember  2016.

Desa Bawuran, Pleret

Desa Bawuran berada di Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul DIY, terdiri dari 7 dusun, yaitu dusun Sanan, Kedungpring, Jambon, Sentulrejo, Bawuran 1, dan Bawuran 2. Di desa Bawuran Mayoritas perempuan yang sudah berumah tangga rata-rata tingkat pendidikan SD-SMP, memilih bekerja sebagai pekerja rumahan, terbukti saat ini yang ada datanya ada 116 orang PPR. Sektor kerja: menjahit, tas batik perca, emping, rajut, dll. Di desa Bawuran telah diresmikan serikat PPR Bunda Mandiri pada tanggal 10 November 2016

 

Desa Segoroyoso, Pleret

Desa Segoyoroso berada di kecamatan Pleret kabupaten Bantul, terdiri dari 8 dusun, yaitu dusun Dahromo 1-2 , dusun Segoroyoso 1-3, dusun Konen, dusun Trukan, dan dusun Srumbung. Di desa Segoyoroso ada UMKM (pemotongan daging sapi dan membuat kerupuk kulit sapi).  Jumlah perempuan pekerja rumahan di desa Segoyoroso masih belum terdata semua di seluruh dusun, saat ini yang terdata ada 27 orang perempuan pekerja rumahan dari dusun Srumbung.  Bekerja sebagai pembuat emping mlinjo, nyunggin, buat tempat makan burung dari batok kelapa dan rajut sepatu/topi/tas. Di desa Segoroyoso telah diresmikan serikat PPR Bunda Berkarya pada tanggal 23 November 2016.

Desa Wukirsari, Imogiri

Desa Wukirsari berada di Kecamatan Imogiri kabupaten Bantul. Daerah ini termaksud desa wisata dan warga nya banyak yang telah menjadi pekerja mandiri/ UMKM (usaha wayang kulit, sovenir kipas dari kulit, Kap Lampu, Kap Lilin, dll). Dusun Nogorasi 1 dan Nogosari 2 merupakan dusun, dimana mayoritas  ibu-ibu nya bekerja sebagai pekerja rumahan. ada 161 orang yang telah di data bekerja sebagai perempuan pekerja rumahan, tiap hari  merajut topi/tas/sepatu, membuat sovenir dari kulit, nyunggin/natah, dll. Di desa Wukirsari telah diresmikan serikat PPR Ngudi Makmur pada tanggal 17 November 2016

Desa Bangunjiwo, Kasihan

Desa Bangunjiwo ada di Kecamatan Kasihan kabupaten Bantul. Ada  149 orang PPR yang telah masuk dalam data dan mayoritas perempuan ibu rumah tangga di desa Bangunjiwo bekerja sebagai pekerja rumahan. Bekerja ngirat, mantek, dan sablon kipas itu disebut pekerja rumahan. 50%  dari 145 PPR yang di data berusia 40 ke atas bahkan lansia. Di desa Bangunjiwo telah diresmikan serikat PPR Kasih Bunda pada tanggal 1 Desember 2016

  • Kota Yogyakarta

Kelurahan Prenggan, Kotagede

Kelurahan Prenggan berada di Kecamatan Kotagede Kota Yogyakarta. Kelurahan Prenggal merupakan daerah wisata karena banyak UMKM (kerajianan perak dan batik) Di kelurahan Prenggan  ibu ibu nya mayoritas bekerja di rumah sebagai perempuan pekerja rumahan, tiap hari  menjahit tas/dompet/rukuh, Bordir, sarung bantal kursi, dll. Di kelurahan Prenggan telah diresmikan serikat PPR Mutiara Bunda pada tanggal 20 September 2017 dan ada 15 orang PPR yang telah menjadi anggota.

Kelurahan Tahunan, Umbulharjo

Kelurahan Tahunan berada di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta. Di kelurahan Tahunan juga merupakan daerah wisata Jumputan, ada beberapa UMKM yang mempekerjakan ibu ibu  sebagai perempuan pekerja rumahan. Tiap hari  Pola, Jumput/melepas jumput, mewarnai, dll. Di kelurahan tahunan telah diresmikan serikat PPR Bunda Mulia pada tanggal 11 Oktober 2017 dan ada 15 orang PPR yang telah menjadi anggota.

Kelurahan Tegal panggung, Danurejan

Kelurahan Tegal panggung berada di Kecamatan Danurejan Kota Yogyakarta. Di kelurahan Tegal panggung  ibu ibu nya mayoritas bekerja di rumah sebagai perempuan pekerja rumahan, tiap hari  menjahit buku, menjahit jarik, Lem box, buat aksesoris, pasang tali gelang, dll. Di kelurahan Tegal panggung telah diresmikan serikat PPR Bunda Merdeka pada tanggal 21 Oktrober 2017 dan ada 30 orang PPR yang telah menjadi anggota.

Kelurahan Cokrodiningratan, Jetis

Kelurahan Cokrodiningratan berada di Kecamatan Jetis Kota Yogyakarta. Di kelurahan Jetis   ibu ibu nya mayoritas bekerja di rumah sebagai perempuan pekerja rumahan pemberi dan UMKM nya ada di kelurahan Cokrodiningratan, produk yang ibu – ibu kerjakan tiap hari  Menggulung/melipat sosis, merangkai kembang, dll. Di kelurahan Cokrodiningratan telah diresmikan serikat PPR Sekar Melati pada tanggal 22 Oktrober 2017 dan ada 22 orang PPR yang telah menjadi anggota

Kelurahan Notoprajan, Ngampilan

Kelurahan Notoprajan berada di Kecamatan Ngampilan Kota Yogyakarta. Di kelurahan Notoprajan  ibu ibu nya mayoritas bekerja di rumah sebagai perempuan pekerja rumahan, tiap hari  menjahit baju, melubang/pasang kancing, merapikan benang, dll. Di kelurahan Notoprajan  telah diresmikan serikat PPR Harapan Ibu pada tanggal 29 Oktrober 2017 ada 18 orang PPR yang telah menjadi anggota

5 Serikat perempuan pekerja rumahan di kabupaten Bantul dan 5 Serikat  perempuan pekerja rumahan di Kota Yogyakarta telah melebur menjadi Federasi Serikat Perempuan Pekerja Rumahan Kab Bantul dan Federasi Serikat Perempuan Pekerja Rumahan Kota Yogyakarta, bersama Yayasan Annisa Swasti “Yasanti” telah melakukan berbagai program kegiatan untuk mendukung advokasi perlindungan hak atas kerja layak bagi perempuan pekerja rumahan di DIY.  Program pengorganisasian seperti pendidikan dan pelatihan bagi pekerja rumahan bagi anggota (melalui metode sekolah kepemimpinan feminis bagi perempuan pekerja rumahan), advokasi kebijakan di pemerintahan desa/kabupaten/kota dan propinsi untuk mendesak pengakuan secara tertulisa bagi pekerja rumahan dan advokasi perlindungan untuk dapat mengakses program perlindungan sosial, kesehatan dan ketenagakerjaan bagi pekerja informal terutama pekerja rumahan. Melakukan kampanye publik untuk melakukan sosialisasi dan memberikan pemahaman ke masyarakat agar mengetahui dan mendukung untuk diberikannya perlindungan terhadap perempuan pekerja rumahan di DIY.

Pemerintahan desa/kelurahan di 10 wilayah di Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta telah mengakui keberadaan organisasi serikat perempuan pekerja rumahan dan telah mendukung  kegiatan dilaksanakan organisasi serikat pekerja rumahan yang ada di desa/kelurahan di kab Bantul/Kota Yogyakarta. Dinas ketenagakerjaan kabupaten Bantul dan DIY telah memasukan program pelatihan untuk perempuan pekerja rumahan di Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan HIPERKES DIY dan BLK kab bantul. BAPPEDA DIY telah memasukan program Kajian Pekerja Rumahan dalam anggaran pembangunan 2017 dan telah di laksanakan oleh Biro Kesra DIY. dan Disnakertrans DIY telah menganggarkan program penyusunan NA RAPERDA Ketenagakerjaan DIY.

[1] Lihat konvensi ILO No. 177 tahun 1996 pasal 1